Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menimbulkan satu pertanyaan besar. Bagaimana mungkin tiga provinsi yang sangat luas bisa terdampak banjir bandang hampir dalam waktu yang bersamaan?
Jika ini tsunami, jawabannya mudah air laut membanjiri wilayah pesisir. Namun banjir bandang jauh berbeda, penyebabnya bisa dari hujan ekstrem dan dari hulu-hulu sungai atau bukit dan pegunungan yang runtuh.
Di sinilah logika publik mulai terusik. Karena secara alami, banjir bandang seharusnya bersifat lokal, bukan regional lintas provinsi. Maka, jika terjadi serentak di tiga provinsi besar, pasti ada sesuatu yang lebih ekstrem dari sekadar hujan lebat dengan intensitas tinggi.
Bukit Barisan, Mungkin Menjadi Titik Awal Segalanya
Sumatera tidak bisa dibaca sebagai wilayah yang berdiri sendiri-sendiri. Ia adalah satu kesatuan ekologi raksasa yang disatukan oleh satu struktur alam utama yaitu pegunungan Bukit Barisan. Jalur pegunungan ini membentang dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan, menjadi wilayah penting penyimpanan air saat hujan ekstrem.
Semua sungai besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baik yang pendek maupun panjang sebagian besar berhulu di sistem Bukit Barisan ini. Artinya, jika terjadi kerusakan sistemik di kawasan tersebut, dampaknya tidak lagi lokal, melainkan bisa menjalar lintas provinsi.
Bukit Barisan sejatinya sangat rapuh secara geologi seperti lereng curam, tanah vulkanik muda, dan kontur ekstrim. Hanya bisa stabil jika ditopang oleh satu pengikat utama yaitu hutan lebat dengan akar dalam. Ketika hutan itu hilang, bukit hanya tinggal tumpukan tanah yang menunggu waktu untuk runtuh.
Apakah Ada Satu Bukit yang Sama Longsor Secara Bersamaan?
Tidak. Dan ini penting untuk diluruskan. Banjir bandang yang menimpa tiga provinsi tersebut bukan berasal dari satu bukit yang sama, melainkan dari ratusan titik longsor kecil hingga sedang yang tersebar di berbagai bagian Bukit Barisan. Sumbernya berbeda-beda.
Di Aceh, sumber longsoran banyak berasal dari kawasan tengah seperti Aceh Tengah, Gayo, hingga Bener Meriah. Di Sumatera Utara, sumber utama berasal dari kawasan perbukitan Karo, Sibolangit, dan wilayah lingkar Danau Toba. Di Sumatera Barat, longsoran datang dari Agam, Tanah Datar, hingga Padang Pariaman.
Secara geografis berbeda, tetapi secara pola kerusakan sangat mirip. Hutan yang mulain menipis, bukit terpotong, tanah terbuka, dan sungai kehilangan pelindung alaminya.
Kayu Gelondongan, Bukti Kerusakan yang Tak Terbantahkan
Salah satu pemandangan yang paling mengganggu akal sehat adalah munculnya kayu-kayu gelodogan raksasa di tengah pemukiman warga. Kayu ini tidak datang dari hutan alami yang tumbang secara natural. Banyak di antaranya berdiameter seragam, lurus, dan bahkan menunjukkan bekas potongan alat. Ini memberi pesan yang sangat jelas adanya pembalakan liar, ada pembukaan lahan, dan ada eksploitasi masif di wilayah hulu.
Ketika hujan ekstrem datang, kayu-kayu ini berubah dari tumpukan kayu siap jual menjadi proyektil bencana. Air datang bersama kayu-kayu gelondongan menghantam rumah, jembatan, kendaraan, hingga sawah tanpa bisa dihentikan.
Hujan Ekstrem, Pemicu yang Datang Serempak
Kerusakan hulu tidak otomatis menjadi banjir bandang tanpa pemicu. Pemicunya adalah hujan ekstrem dalam durasi panjang yang terjadi hampir serempak di pantai barat Sumatera. Awan hujan berat yang tertahan di jalur pegunungan menjatuhkan volume air luar biasa ke wilayah yang secara struktur sudah tidak stabil.
Bayangkan tanah yang sudah lama gembur akibat kehilangan akar pohon, lalu disiram air tanpa henti selama berjam-jam. Hasilnya tanah mudah longsor, kehilangan daya ikat, lalu runtuh serempak. Maka terjadilah fenomena yang tampak seperti satu bencana besar, padahal sesungguhnya ia adalah puluhan hingga ratusan banjir bandang lokal yang meledak pada waktu yang hampir bersamaan.
Apakah Ini Murni Bencana Alam? Atau Ada Campur Tangan Manusia?
Jujur saja, banjir bandang ini tidak bisa disebut sebagai bencana alam murni. Ini hasil dari kerusakan alam karena manusia tamak. Kalau hujan, setiap tahun juga hujan. Selama alam masih lestari maka air hujan yang turun mungkin bisa terserap dengan baik oleh hutan alami.
Mengapa Dampaknya Terlihat Tidak Masuk Akal?
Karena secara logika awam, tidak masuk akal tiga provinsi besar bisa tersapu banjir bandang sekaligus. Namun jika kita melihat dari sudut pandang sistem ekologis, ini justru sangat masuk akal:
- Berada di sistem Bukit Barisan yang sama
- Mengalami pola kerusakan hulu yang serupa
- Terkena hujan ekstrem dalam waktu yang berdekatan
Banjir bandang lintas provinsi di Sumatera bukanlah fenomena acak dan bukan pula kejadian supranatural. Ini hasil dari akumulasi kesalahan panjang dalam mengelola hulu dan pegunungan. Bukit Barisan yang seharusnya menjadi benteng air telah berubah menjadi sumber bahaya karena kehilangan pelindung alaminya.
Jika pola perusakan ini terus berlanjut, maka banjir bandang lintas wilayah bukan lagi kejadian langka, tetapi akan menjadi siklus rutin yang terus mengulang dengan korban yang semakin besar. Perlunya peran pemerintah untuk mencabut izin perusahaan yang melakukan pembalakan hutan secara berlebihan dan menindak semua upaya ilegal untuk membuka lahan di hutan Sumatera.

Leave a Reply